Menghadapi Rekan Kerja yang Nyebelin



Di berbagai tempat kerja, pasti akan ada rekan-rekan kerja yang sulit dihadapi. Padahal, untuk mencapai gol, diperlukan kesamaan visi dan saling menghormati. Bagaimana cara menghadapi rekan kerja yang sulit agar tetap bisa bekerja dengan efektif? Coba ikuti tips berikut:

1. Samakan tujuan dan visi
Adalah hal yang wajar ketika dua orang memiliki berbeda pendapat. Hal semacam ini sering terjadi ketika sedang melakukan sebuah proyek. Hal ini terjadi pada Anda dan rekan kerja? Agar masalah tidak berlarut-larut, Anda dan dia harus duduk bersama dan memikirkan apa kesamaan dasar pandangan. Entah itu dengan menyamakan tujuan atau memastikan Anda dan dia sama-sama tahu apa yang harus dikerjakan. Dengan menemukan kesamaan, Anda dan dia bisa menentukan langkah selanjutnya. Jangan lupa untuk mencatat hasil perbincangan 4 mata Anda dan dia agar sama-sama sepakat. Hal ini akan membantu anggota tim yang lain tidak mengambil pihak dan mencegah kesalahpahaman di kemudian hari.

2. Mencoba menempatkan diri di pihak lain
Ketika Anda melihat dari satu sisi saja, pandangan Anda tidak akan bisa meluas. Cobalah sesekali mencoba menempatkan diri di posisi rekan kerja Anda. Lihat dari sudut pandangnya. Contoh kasus, Anda sudah berusaha menuliskan email kepada rekan kerja Anda secara detail, tapi ia hanya membalas dengan satu kalimat saja, Anda merasa diremehkan. Padahal, sebenarnya ia pun sedang sibuk atau memang ia tipe yang praktis dan to the point. Jangan terlalu memusingkan sesuatu yang tak perlu.

3. Mengalah untuk menang
Akan ada saat-saat ketika rekan kerja Anda secara sadar atau tidak, mencoba memancing emosi Anda. Memberikan komentar-komentar yang tidak menyenangkan dan cenderung membuat Anda merasa marah. Ketimbang tersulut emosi, cobalah untuk tetap tenang, apakah tenaga Anda yang terbuang karena rasa marah itu sepadan untuk dikeluarkan? Beri respon sopan dan langsung atau respon dengan ucapan terima kasih untuk kepeduliannya memperhatikan Anda. Apa pun respon Anda, hindari yang sifatnya sarkasme. Ketika respon Anda akan komentar menyebalkannya itu tidak tersulut dan menjawab dengan sopan tanpa menyinggung siapa pun, ia mungkin akan berusaha untuk berbuat baik pula pada Anda di masa mendatang.

4. Jangan mengharap ada permintaan maaf
Adalah hal yang sangat tidak menyenangkan ketika seorang teman kerja melakukan kesalahan yang berdampak pada pekerjaan Anda, lalu kemudian bertingkah seperti tak ada yang salah. Untuk mengatasinya, ada baiknya Anda memberitahukan kepada orang tersebut apa saja yang rusak karena insiden ciptaannya itu, namun jangan terlalu menekannya agar ia bisa belajar juga. Sefrustasi apa pun Anda, menunjuk kesalahan pada satu orang dan terus mengungkitnya hanya akan memperburuk keadaan. Jika masalahnya memang sangat serius, bicarakanlah pada atasan Anda. Fokuslah pada apa yang bisa Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dan sebaliknya, jika ternyata Andalah yang melakukan kesalahan, sebaiknya Anda mengakui kesalahan tersebut, dan mulai mengambil langkah-langkah tanggung jawab karena kesalahan tersebut.

5. Jangan terlalu dibawa ke hati
Akan ada orang-orang yang sikapnya memang tidak pantas ditiru. Misal, meski Anda sudah menyapanya di pagi hari, ia tetap saja berjalan dan tidak menggubris Anda. Atau, ada rekan kerja yang sulit bekerja dalam satu tim. Padahal, tanpa kita ketahui, sebenarnya bisa saja hal tersebut terjadi karena orang yang pertama tadi bukanlah tipe yang bisa bekerja di pagi hari. Sementara orang yang kedua, bisa saja di tempat kerjanya yang terdahulu, atasannya tak pernah memberinya pujian. Bahwa tindakan-tindakan tersebut bukanlah karena mereka tidak suka dengan Anda, tapi karena memang sikap mereka saja yang seperti itu. Jangan terlalu membawa ke hati sikap-sikap orang yang tak menyenangkan.

6. Ramah
Anda tak perlu menjadi sahabat semua orang. Anda hanya perlu memiliki sikap mampu beradaptasi, mudah diajak bekerja sama, dan tetap sopan. Ketika semua orang sudah mengetahui kualitas dan keramahan Anda, maka Anda akan selalu punya teman.

7. Mawas diri
Ingatlah, bahwa kebiasaan Anda pun juga bisa saja membuat rekan kerja Anda merasa kesal seperti Anda merasa kesal dengan kebiasaan mereka. Misal, surat elektronik yang Anda kirimkan ke rekan-rekan bisa berlembar-lembar panjangnya, padahal pertanyaan dan inti pokoknya bisa dituliskan singkat. Hal ini bisa membuat rekan kerja frustasi dan merasa kesal. Selalu mawas diri dan mampu menilai diri akan membantu kualitas interaksi Anda dan teman-teman kerja.

Kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dan bekerja dengan segala macam tipe kepribadian orang tak hanya bisa membuat suasana kerja lebih menyenangkan, tapi juga bisa membantu karier Anda.Bila Anda sudah mencoba segala cara, namun memang sulit untuk bekerja sama dengan rekan kerja Anda yang menyebalkan, cobalah untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan atasan Anda atau bagian Sumber Daya Manusia untuk solusi atau kemungkinan pemindahan divisi. Jangan menyerah dengan mengirimkan surat pengunduran diri terlalu cepat. Anda sudah susah payah masuk ke perusahaan itu, Anda juga sudah bekerja keras, apakah harus berakhir karena masalah hubungan kerja yang tak menyenangkan?

Mengubah Karier pada Usia 30-an: Terlambatkah?


Berdasarkan tabel perkembangan versi Roger Gould, psikiater Amerika dan pemerhati perkembangan psikologi usia dewasa, pada rentang usia 35-43 tahun, seseorang mengalami periode urgensi untuk mencapai tujuan hidup. Ia mulai memiliki kesadaran terhadap adanya keterbatasan waktu dalam memenuhi tuntutan aktivitas sehari-hari dan butuh menyusun kembali tujuan hidupnya.

Krisis paruh baya
Menurut Gould pula, usaha menangani krisis kehidupan pada usia paruh baya dan adanya kesadaran terhadap perasaan urgensi untuk mengatasi "krisis hidup" ini merupakan reaksi alami. Reaksi ini akan membantu individu menuju jalan lebih matang. Upaya untuk bisa menghadapi dan mencari jalan keluar terhadap kondisi ini akan semakin membuka pintu mencapai kedewasaan seseorang.

Usia 30-an merupakan awal periode tengah baya. Anda cenderung melihat peristiwa-peristiwa penting dalam hidup saat ini seolah "memaksa" Anda mengadakan penataan kembali atas tujuan hidup Anda. Sebagai langkah awal, pikirkan kembali apa tujuan hidup Anda. Ini akan memudahkan Anda menentukan prioritas pilihan karier/kerja setelahnya. Renungkan kembali pertanyaan-pertanyaan ini:

- Mengapa saya harus bekerja?
- Apa saja yang telah saya capai dalam hidup? Apa lagi yang ingin saya capai?
- Cara-cara apa saja yang dapat saya lakukan untuk mendapatkan, merasakan, dan mengalami karier/pekerjaan yang lebih berarti?

Misalnya, pertimbangan yang ingin Anda gapai saat ini adalah untuk mencari peluang kerja baru karena lebih merasa tidak mengalami peningkatan karier setelah 5 tahun bekerja. Adapun dari segi penghasilan, Anda merasa cukup. Pikirkanlah lagi apa yang Anda harapkan dengan adanya peningkatan karier tersebut? Apakah karena terlanda jenuh dan ingin jenis tugas dan tantangan baru? Apakah karena jenuh dan ingin tugas lebih sulit dan kompleks? Apakah demi meraih rasa bangga dan percaya diri yang lebih sehat, dengan jabatan baru yang terkesan lebih kredibel? Apakah ingin suasana kerja baru, ingin mendapatkan wawasan baru, atau ingin memperluas networking dengan pihak internal dan eksternal kantor sesuai kapasitas baru nanti?

Manfaatkan evaluasi
Langkah selanjutnya, jika pilihan mengarah pada mempertimbangkan terlebih dulu kemungkinan meminta promosi di kantor Anda sekarang, maka manfaatkan periode evaluasi performance appraisal secara optimal. Dengan begitu, Anda bisa membicarakan dengan obyektif apa saja kekuatan, aspek yang perlu dikembangkan, dan peluang peningkatan karier Anda saat ini.

Carilah waktu untuk berdiskusi dengan atasan dan pihak berwenang mengenai hal ini sehingga Anda akan segera tahu tindakan praktis yang perlu ditempuh untuk kemajuan karier Anda.

Banting setir
Jika Anda sempat terpikir untuk "banting setir" ke sebuah lahan pekerjaan yang jauh dari tempat bekerja sebelumnya, maka penting untuk membekali diri lebih banyak. Untuk memahami pengetahuan, sertifikasi keahlian yang akan dibutuhkan, dan nilai pekerjaan apa yang perlu dimiliki. Introspeksi diri, apakah sikap dan perilaku Anda cenderung sejalan dengan sikap dan perilaku yang dibutuhkan di tempat kerja selanjutnya.

Untuk hasil lebih optimal, coba bicarakan dengan psikolog yang tepercaya. Dengan begini, Anda bisa mendiskusikan minat vocational Anda, sesuai bakat, keterampilan, dan peluang yang ada di depan. Selamat berjuang dalam menggali potensi diri demi meraih karier/kerja yang paling sesuai bagi Anda.

10 Kesalahan Saat Job Interview



Panggilan untuk wawancara yang ditunggu-tunggu telah datang. Wajar bila Anda begitu bersemangat untuk menghadapinya. Hati-hati, jangan sampai semangat Anda malah merusak kesempatan itu. Misalnya, dengan memberikan jawaban yang kurang bijaksana. Apa saja hal-hal yang bisa bikin nilai "pasaran" Anda turun di mata pewawancara?

1. Anda mengatakan, "Inilah pekerjaan impian saya." Walaupun Anda bersungguh-sungguh mengatakannya, 70 persen pewawancara tidak akan terlalu tertarik. Sebab mereka telah mendengar hal yang sama dari pelamar-pelamar lainnya. Akan lebih baik jika Anda memikirkan jawaban yang "out of the box", atau mengatakan bahwa Anda adalah team player yang baik. Setelah itu jelaskan mengapa Anda hebat dalam hal itu.

2. Anda menjelek-jelekkan bos lama Anda. Meskipun Anda terlihat smart saat wawancara, ada baiknya tidak menganggap lemah ataupun menjelek-jelekkan mantan atasan karena menganggap kepimpinannya yang kurang baik. Anda akan dinilai tidak respek pada atasan.

3. Menanyakan jatah cuti, padahal belum diterima. Anda boleh saja punya harapan tentang jatah cuti. Namun jangan bicarakan di awal wawancara, terlebih wawancara pertama. Anda juga tak perlu mengemukakan tentang liburan panjang yang selalu Anda lakukan bersama keluarga setiap tahun. Sebab pewawancara ingin mendengar sebesar apa kontribusi yang akan Anda lakukan pada perusahaan saat diterima nanti.

4. Minum air mineral atau kopi? Sebaiknya hindari minuman berkafein sebelum wawancara, karena bisa menciptakan bau mulut. Selain itu efek kafein bisa merusak konsentrasi saat wawancara, membuat Anda cepat haus, dan ingin buang air terus.

5. Anda berdandan sangat seksi dan menantang. Hm... Anda bukan datang untuk peragaan busana, kan? Jangan berdandan berlebihan yang membuat Anda dinilai lebih mementingkan penampilan ketimbang otak Anda. Pakaian sebaiknya tidak menggunakan detail yang terlalu ramai, semisal gelang yang bergemericing ataupun atasan dengan belahan dada yang rendah. Terlebih jika Anda mengenakan pakaian transparan yang menyiarkan warna pakaian dalam Anda.

6. Membicarakan gaji terlalu dini. Semua pewawancara tahu, kalau Anda pindah kerja untuk mencari penghasilan yang lebih baik. Namun jangan pernah menanyakan soal gaji jika mereka tidak memulainya, termasuk untuk negosiasi gaji. Hal-hal itu akan diungkapkan pada waktunya nanti.

7. Sok akrab. Memang menciptakan suasana santai dan ramah pada pewawancara sangat penting untuk menjalin komunikasi yang baik. Namun jangan terlalu berlebihan. Misalnya membuat banyolan yang membuat mereka merasa Anda punya kepribadian yang aneh.

8. Memakai jeans. Meskipun kantor yang akan Anda datangi memiliki aturan yang sangat longgar soal berbusana, bukan berarti Anda bebas menggunakan jeans saat interview. Gunakan saja celana panjang hitam dengan jaket yang chic.

9. Tidak mematikan ponsel. Anda tidak mau terganggu dengan telepon masuk saat Anda berada di tengah-tengah wawancara, kan? Hal itu bukan saja dianggap tidak sopan, Anda juga akan dianggap tidak serius.

10. Datang terlambat. Sudah pasti dalam benak pewawancara, Anda bukan orang yang disiplin, tidak menghargai waktu, tidak bisa memperhitungkan waktu, dan terlalu cuek.

Powered by Blogger