Berkantor Dekat Mal Bikin Konsumtif



Semakin banyak pusat-pusat perbelanjaan baru yang didirikan di sekitar area perkantoran di Jakarta. Sebut saja kawasan Senayan dengan Senayan City dan Plasa Senayan, serta Sudirman dengan Pacific Place dan fx Entertainment Center.

Berkantor dekat dengan mal tentu memberikan keuntungan. Hampir semua kebutuhan bisa terpenuhi, dari makan siang, mencari gadget baru, membeli pakaian atau sepatu baru ketika mendadak Anda harus menghadiri jamuan makan penting, mampir ke salon ketika belum sempat keramas, atau apa pun yang mendadak Anda butuhkan.

Namun tak jarang, mengunjungi mal bukan lagi disebabkan kebutuhan, melainkan keinginan. Jarak yang dekat (bahkan beberapa perusahaan berkantor di gedung mal tersebut) membuat karyawan sulit menghindar dari godaan untuk makan dan browsing department store yang sedang menggelar diskon.

Upik Rubiyanti, copywriter di sebuah advertising agency, mengalami kemudahan ini. Tempat kerja terdahulunya di kawasan Senayan sangat memungkinkan ia untuk nyaris setiap hari mengunjungi Plasa Senayan. "Soalnya ada jalan penghubung antara kantor dengan mal. Jadi sangat mudah menuju mal tanpa harus keluar gedung," tukasnya pada Kompas Female.

Hampir tiap pagi, Upik rutin membeli sarapan di mal. Siangnya, perempuan yang mengaku hobi belanja ini, kembali mendatangi mal tersebut untuk makan siang. Sesekali melewati beberapa toko ketika ingin kembali menuju kantor. Jika ada toko yang memajang pengumuman diskon hingga 50 persen, Upik sudah pasti segera mendatanginya.

"Kalau kebetulan lewat ada permen yang bentuknya menarik atau ada minuman baru yang layak dicoba, mampir deh," katanya sambil tertawa berderai-derai.

Rupiah yang dibelanjakan sekali memasuki mal, minimal Rp 20.000. Upik mengaku pernah tergiur membelanjakan uang hingga Rp1 juta saat ada diskon. "Tapi ukurannya diskon, ya. Kalau tidak diskon ya tidak tertarik beli," kilah perempuan bertubuh mungil ini.

Upik menggunakan 40 persen dari gajinya untuk berbelanja karena tergiur diskon. Kartu kredit memudahkannya untuk berbelanja, meski ia mengaku saat tagihan datang, raut wajahnya bisa berubah tak enak.

Hal ini juga terjadi pada Sandra (bukan nama sebenarnya), yang bekerja di sebuah public relations agency di kawasan Sarinah Thamrin. Jarak mal dari kantornya hanya dipisahkan jalan utama Thamrin Raya. Jembatan penyeberangan pun tak jadi hambatan baginya berkunjung
ke mal untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

"Awalnya belanja kebutuhan kantor, tapi kalau sekilas lihat ada diskon, ya mampir juga," ujarnya.

Seringkali barang yang dibelanjakan tidak begitu dibutuhkan. Sekitar 20 persen penghasilannya terpakai untuk pengeluaran tak terencana ini. Mesti mengaku sedikit menyesal saat melihat saldo rekeningnya menipis, godaan diskon masih mampu membujuknya untuk terus mampir ke pusat perbelanjaan tersebut.

Kedua perempuan ini memiliki pendapat serupa, bahwa berkantor dekat mal membuat mereka menjadi sangat konsumtif. "Satu-satunya cara untuk tidak belanja adalah saat keuangan sudah mulai menipis. Saat itu hobi belanja ditekan," kata Sandra.

Sedangkan Upik merasa tertolong oleh pekerjaannya yang menyita waktu. Hanya kesibukan di kantor lah yang membuatnya bisa mengurangi kebiasaan berbelanja dan berkunjung ke mal.

Anda ingin tahu apa saja barang setengah harga yang berhasil menyita perhatian mereka setidaknya dalam 15 menit?
* Pakaian
* Sepatu
* Buku
* Pernak-pernik
* Makanan dan minuman
* Alat tulis
* Aksesori

Bagaimana dengan Anda yang berkantor di dekat pusat perbelanjaan lain?

Menyusun APBN Rumah Tangga


Tahun baru adalah saatnya introspeksi diri, termasuk soal pengeluaran. Mungkin selama ini Anda termasuk orang yang tak suka dengan rencana keuangan tahunan. Dan berpikiri jika pengeluaran cukup direncanakan per bulan saja.

Padahal jika direncanakan sejak awal tahun, Anda bisa lebih berhemat dan menyadari bagaimana gaya hidup Anda selama ini. Apakah pengeluaran selama ini sudah cukup efektif atau suka membengkak di mana-mana? Nah, bagaimana anggaran belanja bisa diperhitungkan tahunan? Simak pemaparan Eko Endarto, RFA dari Finansia Consulting - Jakarta.

Anggaran Rutin dan Khusus
Langkah pertama yang harus diambil sebelum menentukan perincian anggaran tahunan, dengan membagi anggaran dasar menjadi dua kriteria; rutin dan khusus. Pembagian ini sesuai dengan tujuan mencapai keinginan dan kebutuhan keluarga.

Anggaran khusus merupakan jenis pengeluaran yang direncanakan untuk kebutuhan khusus atau tujuan tertentu, seperti menyekolahkan anak, rencana berlibur, DP rumah, dan sebagainya. Anggaran khusus ini tak harus merupakan rancangan untuk rencana di tahun yang sama. Namun juga bisa disisihkan untuk beberapa tahun kemudian. Misal, untuk berlibur ke luar kota di tahun 2012, atau anggaran sekolah anak untuk masuk SMA tahun 2015, dan sebagainya.

Sedangkan anggaran rutin adalah anggaran yang dibuat untuk kebutuhan yang besarnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya plus nilai inflasi. Misalnya, anggaran untuk pembayaran utang, setoran rutin investasi dan belanja rutin keluarga.

Tentukan Prioritas
Pada dasarnya semua anggaran pengeluaran memiliki skala prioritas, agar pengelolaan keuangan dapat dipantau. Misalnya, 10 persen untuk sosial keagamaan, 30 persen untuk cicilan hutang, 20 persen untuk setoran investasi dan proteksi (asuransi), sisanya untuk kebutuhan rutin dan biaya hidup.

Barulah bisa dimainkan dari pos kebutuhan hidup yang cenderung fluktuatif. Buat prioritas kembali, kebutuhan yang benar-benar pokok, kebutuhan sekunder dan tersier (mewah). Tujuannya agar pengeluaran benar-benar untuk memenuhi kebutuhan bukan sekadar keinginan.

Jangan lupa sisihkan anggaran cadangan sekitar 3 kali pengeluaran bulanan. Bisa diupayakan dengan menyisihkan 20 persen dari setoran investasi (dalam rekening tersendiri), kemudian baru dimasukkan ke produk investasi sesuai jangka waktu tujuan. Dana cadangan ini bermanfaat sebagai buffer, jika terjadi sesuatu dengan penghasilan rutin rumah tangga. Mosal, suami terkena PHK, pengeluaran rutin membengkak sehingga harus mencari penghasilan baru, pengeluaran mendadak atau terjadi hal-hal yang tak diinginkan yang tidak terjamin asuransi, dan sebagainya.

Sistem Kalender
Setelah prediksi anggaran dibuat, selanjutnya perlu rencana yang lebih konkret. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk merealisasikan anggaran tahunan, salah satunya dengan menggunakan sistem kalender. Caranya, buat daftar yang memuat tentang kapan, berapa, dan untuk apa pengeluaran dilakukan. Lalu konversikan pada kalender yang ada di rumah.

Namun hanya untuk pengeluaran khusus dan pengeluaran rutin yang besar saja. Anggaran rutin tidak dimasukkan ke dalam kalender, karena sudah bersifat rutin dikeluarkan dan tidak perlu diingatkan secara khusus.

Jangan lupa tetap memisahkan anggaran rutin dan khusus. Tujuannya agar pemegang keuangan keluarga bisa ingat dan tak lupa kewajiban serta komitmennya. Misalnya, pada tiap tanggal 1 bulan Januari hingga Desember bayar cicilan mobil, tiap tanggal 15 Januari hingga Desember bayar setoran pendidikan anak, dan seterusnya.

Patuhi yang Sudah Dibuat
Setelah seluruh anggaran selesai dibuat bersama pasangan, langkah selanjutnya adalah lakukan apa yang sudah Anda tuliskan dan catat apa saja yang telah Anda lakukan. Catatan diperlukan untuk mengevaluasi apakah tindakan kita sudah sesuasi dengan rencana dan anggaran. Selamat merancang keuangan di tahun 2010!

Sisa Gaji di Bank, Bijaknya Diapakan, Ya?


Hampir sebagian besar pembayaran gaji saat ini sudah dilakukan melalui cara transfer (pemindahbukuan) dari rekening perusahaan (pembayar gaji) ke rekening karyawan (penerima gaji), dan tidak lagi dilakukan dengan membayar secara tunai atau cash. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam hal sistem administrasi dan lebih aman dilakukan. Dengan demikian, seorang karyawan diwajibkan memiliki sebuah rekening tabungan di bank yang sama dengan bank yang dipakai perusahaan.

Sebaiknya Anda membuka sebuah rekening masa depan, selain rekening gaji di bank yang sama. Rekening gaji dipakai untuk masuknya gaji dan keluarnya pembayaran sebagai tagihan sehingga saldonya akan selalu kering. Adapun rekening masa depan dapat Anda pergunakan untuk menampung dan mengakumulasikan dana masa depan. Jadi, saat Anda menerima pendapatan di rekening gaji, maka segera transfer sebesar minimal 10 persen ke rekening masa depan, selanjutnya bayar segala utang (termasuk kartu kredit). Sisanya silakan Anda pakai untuk biaya hidup selama bulan tersebut, dan jangan gesek lagi kartu kredit Anda (jangan berutang).

Saat dana Anda di rekening masa depan sudah terakumulasi dan cukup besar, serta memenuhi syarat untuk dipindahkan ke deposito, silakan alihkan dan ubah bentuk dana masa depan Anda dari bentuk rekening (tabungan) ke sertifikat deposito.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dengan seksama bila Anda ingin menaruh dana di deposito adalah sebagai berikut:

- Pastikan langganan Anda mengikuti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
- Anda menaruh dana di produk perbankan, dan bukan produk lainnya.
- Dana yang dijamin oleh LPS dengan batas maksimal sebesar Rp 2 miliar.
- Bunga simpanan dan deposito yang diberikan bank tidak boleh melampaui tingkat suku bunga yang diperkenankan oleh LPS. Jadi jangan berpikiran bahwa bila uang Anda ditaruh di bank, maka dana lantas aman 100 persen. Selain 3 hal di atas, ada 1 syarat lagi yang harus Anda penuhi bila Anda ingin dana Anda dibayar kembali oleh LPS (bila bank Anda bankrut), yaitu: Anda tidak boleh memiliki catatan buruk dan pernah melakukan sebuah tindakan yang merugikan bank tersebut.

Anda disarankan untuk menaruh uang sebesar 1 bulan gaji di rekening tabungan masa depan, dan 2-5 kali gaji Anda dalam bentuk deposito yang dapat Anda cairkan setiap saat dalam keadaan genting. Bila ternyata dana Anda sudah melampaui 6 kali gaji Anda, maka mulailah memikirkan untuk segera mentransfer dana masa depan Anda dalam bentuk logam mulia (LM).

Mengapa disarankan untuk menaruh maksimal 6 kali gaji Anda di bank? Suku bunga bank yang Anda peroleh tidak akan mampu mengalahkan tingkat inflasi yang terjadi sehingga bila Anda menaruh seluruh dana masa depan di bank, maka Anda akan menjadi "miskin" secara otomatis. Nilai dan daya beli uang Anda akan menurun seiring berjalannya waktu. Untuk itu, Anda disarankan untuk mulai masuk ke dalam investasi LM dan reksa dana.

Etika Berkirim E-mail Bisnis


Selain pembawaan diri dan penampilan, ternyata cara seseorang menuliskan e-mail bisa mengungkap kepribadiannya. Berikut adalah beberapa panduan mengenai penulisan e-mail untuk membuat Anda tetap terlihat profesional.

1. Kirimkan konfirmasi follow-up
Jika Anda dan rekan kerja atau bos baru saja selesai menyepakati suatu keputusan secara langsung, namun tak ada notulen, segeralah menuliskan hasilnya dalam surat elektronik untuk segera dikirimkan kepada orang tersebut. Ini penting untuk mencegah kesalahpahaman, ketidaksetujuan, dan kelupaan. Mengkonfirmasi keputusan dalam bentuk tulisan memastikan setiap orang memiliki kesamaan dan memastikan segalanya terbahas untuk mencegah kesalahan di masa mendatang.

2. Mengedit diri sendiri
Untuk surat-surat penting, selalu pastikan Anda mengecek ulang untuk kesalahan pengetikan setidaknya sekali sebelum dikirimkan. Untuk hasil yang lebih pasti, sebelum dikirim, coba cetak dalam bentuk kertas, kemudian baca kembali. Kritislah pada tulisan Anda sendiri. Apakah ada salah huruf, salah penggunaan kalimat, hingga kemungkinan terjadinya salah paham.

3. Pikir sebelum mengirim
Ada sebagian orang yang seringkali tersulut emosi saat akan menjawab e-mail yang kontroversial atau berpotensi memicu adu mulut. Anda tentu masih ingat kasus Prita Mulyasari dan Luna Maya, kan? Mereka menuliskan komentar dalam bentuk yang kurang mengenakkan bagi pihak lain sehingga akhirnya berujung tidak menyenangkan. Jika Anda akan membalas surat elektronik yang berpotensi memicu kemarahan, cobalah untuk menuliskan apa yang ingin Anda katakan, setelah selesai, jangan dulu dikirim. Biarkan tulisan itu hingga satu jam, sementara Anda melakukan hal lain yang jauh dari komputer. Setelah satu jam, baca kembali surat Anda. Perkirakan dan tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah jawaban yang Anda tuliskan itu cukup profesional, produktif, tidak merugikan siapa pun, dan memberikan manfaat untuk orang lain? Jika ya, silakan kirim. Jika tidak, segera klik tombol delete.

4. Hormati BCC
BCC, kolom yang ada di bawah alamat e-mail tujuan merupakan singkatan dari blind carbon copy. Artinya, ketika Anda menuliskan alamat tujuan di bagian tersebut, maka alamat tersebut tak akan terlihat di e-mail si penerima. Ketika Anda menerima e-mail dari orang lain, dan alamat e-mail Anda tidak terlihat di daftar kiriman, ini berarti bahwa si pengirim tidak ingin ada orang lain mengetahui bahwa Anda mendapatkan e-mail tersebut. Sayangnya, banyak orang merespon e-mail dengan cepat, sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang disembunyikan keterlibatannya. Untuk melindungi diri Anda dan si pengirim, jangan merespon surat yang dikirimkan kepada Anda dalam bentuk BCC. Dan selalu pastikan bahwa keterlibatan Anda sudah diketahui secara publik sebelum merespon pada e-mail grup.

5. Perhitungkan kesopanan dalam mengirimkan respon apa pun

Untuk surat-surat yang penting, akan sangat diharapkan balasan. Ketika Anda menerima surat penting, dan si pengirim pun meminta konfirmasi, kirimkanlah surat pemberitahuan bahwa Anda sudah menerima surat tersebut. Namun, ini bukan berarti bahwa setiap surat yang Anda terima dari rekan kerja harus Anda balas. Rekan kerja Anda juga akan kesal jika inbox e-mail-nya hanya berisi surat konfirmasi bahwa Anda sudah menerima e-mail darinya. Andalah yang lebih tahu, respon apa dan kapan diperlukan.

6. Jangan melibatkan emosi
Tempat kerja adalah tempat untuk berbisnis. Seharusnya isi e-mail yang tentang pekerjaan, sifatnya profesional dan resmi. Ingatlah, bahwa beberapa perusahaan memiliki kebijaksanaan untuk memonitor e-mail yang dikirim dan terkirim.

7. Jangan terbiasa menggunakan fitur "reply all"
Satu-satunya alasan tepat untuk membalas rantai e-mail ke seluruh orang yang dikirimkan (thread) adalah karena Anda memiliki informasi yang ingin dikirimkan kepada seluruh anggota grup tersebut. Tak jarang orang yang mengirimkan balasan dengan fitur reply all, tidak memiliki pesan terlalu penting untuk semua orang. Biasanya kepentingannya hanya kepada si pengirim pertama. Nah, orang-orang lain harus mendapati inbox e-mailnya penuh pesan-pesan tak penting untuknya akan merasa terganggu. Lebih parahnya lagi, kebiasaan menggunakan fitur ini rawan membeberkan informasi yang seharusnya tak diketahui pihak lain. Biasakan untuk hanya membalas surat elektronik berantai kepada si pengirim pertama saja.

8. Jangan mengirimkan e-mail pribadi lewat akun bisnis
Perusahaan Anda memiliki hak untuk membaca segala bentuk komunikasi yang terjadi melalui kanalnya. Ini berarti, segala e-mail yang berisi ekspresi cinta, keluhan kepada bos, atau segala hal yang personal sebaiknya dilakukan melalui akun pribadi saja. Plus, Anda bisa dinilai sebagai orang yang malas jika ada rekan kerja yang menilai Anda sedang melakukan kegiatan pribadi di jam kerja.

9. Jangan mengkomunikasikan segalanya dalam bentuk tulisan
Seringkali, kita, manusia urban bergantung pada fasilitas elektronik, sehingga membatasi interaksi sosial. Sesekali, cobalah untuk menyiapkan waktu untuk berdiskusi dengan rekan kerja Anda secara langsung.

Dana Pensiun Harus Disiapkan Sejak Awal



Boleh jadi usia Anda saat ini masih dalam kategori produktif. Anda pun masih sanggup membiayai kebutuhan keluarga dan bisa memanjakan diri sendiri. Namun bagaimana jika usia sudah beranjak menua, 20 atau 30 tahun ke depan, saat secara fisik Anda tak lagi produktif? Apakah tabungan di rekening bank mampu mengejar nilai barang yang pastinya akan terus naik setiap tahunnya?

Hitung kembali saldo Anda. Jika dikalkulasikan dengan pertumbuhan inflasi 10 per tahunnya, dan bunga tabungan yang hanya 5 persen per tahun, Anda akan menemui sejauh mana tabungan konvensional di bank mempunyai daya beli kuat mengimbangi inflasi ke depannya.

Syafriady Hutagalung, manajer senior agen Prudential, mengatakan kepada Kompas Female masih ada anggapan rancu tentang masa pensiun dan dana pensiun.

"Istilah pensiun berlaku terhadap seseorang yang sudah produktif pada usia tertentu, 50 - 60 tahun. Namun tak sedikit orang pada usia ini masih bekerja dan mencari nafkah dikarenakan mereka tidak menyiapkan dana pensiun sejak masih produktif," jelas pria yang kerap dipanggil Adhie ini.

Menurut Adhie, masa produktivitas bisa saja berkurang, namun biaya hidup terus meningkat. Anda juga boleh pensiun, tetapi biaya hidup tidak akan pernah pensiun. Pertanyaan penting yang harus segera dijawab adalah bagaimana persiapan Anda sebelum pensiun?

Ada beberapa pilihan untuk mempersiapkan dana pensiun Anda. Berbisnis, menabung konvensional di bank, atau investasi. Masing-masing memiliki nilai lebih, di antaranya seperti dijelaskan oleh Adhie:

1. Berbisnis atau membuka usaha sampingan
Membuka usaha sampingan bisa sangat menguntungkan, karena biasanya dengan membuka usaha, bisa didapat hasil yang besar dalam tempo yang lebih cepat. Tetapi Anda harus siap dengan segala konsekuensi bisnis.

Setidaknya pebisnis harus siap dengan sejumlah hal seperti:
* Pertumbuhan permintaan dan penawaran (supply-demand).
* Produksi.
* Sikap mental seperti kesabaran, ketekunan, dan komitmen yang akan sangat menentukan kesuksesan bisnis.

Jika berbisnis menjadi pilihan, memang pertumbuhan uang akan sangat progresif. Apalagi jika Anda memilih usaha yang tak memerlukan modal besar seperti jasa konsultan. Berapa nilai dana yang akan terkumpul dari cara ini akan bergantung penuh pada usaha Anda menjalankan bisnis.
Jumlahnya bisa sangat besar, yang artinya simpanan dana pensiun Anda di masa mendatang pun bernilai tinggi sejalan dengan aset dan produktivitas bisnis yang terus berkembang.

2. Menabung secara rutin
Setiap orang pastinya memiliki rekening tabungan konvensional di bank pilihan. Bagi karyawan, uang gaji disisihkan sekian persen untuk ditabung. Cara ini sah saja jika lebih memungkinkan untuk Anda. Namun harus siap dengan resikonya, yakni:
* Daya beli menurun di masa mendatang, artinya nilai dana yang Anda simpan di bank akan tak sebanding nilai kebutuhan di masa mendatang.

* Pajak. Jika Anda menabung seratus juta di bank, pemerintah akan memotong pajak sebesar 20%. Artinya, nilai dana tabungan akan menurun.

* Inflasi dengan pertumbuhan rata-rata 10 persen per tahun. Artinya, 20 tahun mendatang nilai dana Anda tidak mampu mengimbangi tingginya harga kebutuhan dasar. Karena bunga hanya berada dalam kisaran 5 persen, tingginya inflasi masih belum menutupi kebutuhan.

* Sikap tidak disiplin. Banyak keluarga menetapkan berbagai pos pengeluaran terlebih dahulu, baru kemudian ”sisanya” ditabung. Cara ini membuat tabungan tidak optimal dan cenderung akan dikorbankan apabila ada pengeluaran tambahan di luar yang rutin.

3. Investasi
Instrumen investasi bisa beragam. Pilih yang paling tepat untuk Anda, apakah saham, obligasi, reksadana, asuransi, atau lainnya yang bersifat investasi jangka panjang (long term investment).

Bicara asuransi, menurut Adhie, produk tabungan berjangka atau rencana dewasa ini disertai fitur asuransi. Dengan demikian, target dana atau rencana yang diinginkan dapat tetap tercapai meskipun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Besaran nilai investasi pada tahap ini kembali
kepada tujuan Anda, seberapa besar nilai dana pensiun yang ingin Anda kumpulkan dalam jangka waktu tertentu.

"Pada intinya, pilih instrumen investasi yang bisa menumbuhkan dana di atas bunga deposito dengan merujuk kepada nilai masa depan atau future value," tukas Adhie.

Dengan perencanaan tepat, di saat waktu pensiun tiba (bisa jadi pensiun dini), simpanan Anda sudah mampu membiayai hidup Anda sepenuhnya di masa mendatang. Jadi, siap memulainya sekarang?

Powered by Blogger